Melihat Corak Milenial Santri

Kategorisasi milenial yang merujuk pada situasi Amerika sebenarnya tidak sepenuhnya tepat jika dipadukan dengan kondisi di Indonesia. Di Amerika, generasi milenialnya sudah mengenal teknologi dari kecil. Mereka boleh dibilang digital native. Sementara generasi lahir yang sama di Indonesia pada 1990 belum mengenal internet. Jadi, tidak sepenuhnya sama.

Mungkin persamaannya generasi milenial Amerika yang lahir tahun 1980-an, sedangkan di Indonesia generasinya lahir tahun 1990-an. Jadi memang kita harus melihat bahwa penggunaan istilah itu tidak sepenuhnya pas untuk konteks Indonesia. Jika mengacu pada ukuran tahun lahir.

Secara umum generasi-generasi muda disebut generasi milenial karena perpindahan milenium. Namun, sekali lagi, perpindahan milenium di Amerika berbeda dengan di Indonesia. Sebagai contoh, di Nahdlatul Ulama (NU) mengenal dunia online tahun 2009-2010 ketika ada smartphone murah. Sangat berbeda. Di Indonesia agak terlambat. Secara umum orang Indonesia juga begitu, terlambat 10 tahun dengan generasi milenial di Amerika.

Dalam konteks santri, generasi milenial sekarang memiliki karakter-karakter yang tidak sama dengan generasi milenial di Amerika. Misalnya, generasi milenial Amerika dianggap lebih lincah dalam mengekspresikan diri, lebih susah bertahan di satu pekerjaan dalam waktu lama, lebih kreatif, lebih tidak bisa ditekan, lebih optimis dan tidak begitu khawatir dengan masa depan. Sehingga mudah pindah kerja, karena percaya diri. Generasi milenial Amerika, hasratnya berpetualang di dunia kerja. Sementara di Indonesia tidak seperti itu, dari muda sampai tua berkarir.

Dalam konteks santri, yang punya karakter seperti ini, boleh jadi generasi yang dibilang sebagai generasi Z. Yakni mereka yang lahir pada tahun 1996 ke atas, bukan yang lahir besar tahun 1980, seperti generasi milenial di Amerika. Karena apa? mereka inilah yang lahir pada tahun 1996 ke atas bisa dibilang digital native. Dia begitu SD sudah kenal internet, sehingga itu mempengaruhi. Dia sudah mengenal game (permainan online).

Jadi, memang tidak bisa disamakan. Tetapi bahwa kita melihat di generasi-generasi kita yang lebih belakang yang lahir 1996 ke atas, kita justru melihat corak milenial, seperti generasi Amerika. Generasi milenial di Indonesia, coraknya generasi milenial Amerika tahun 1980-an.

Dalam konteks ini santri juga sama. Misal, santri-santri yang disebut sebagai generasi milenial adalah santri yang lebih muda, yang rata-rata melek tenologi, mengenal game internet, terkoneksi, lebih banyak menggunakan komunikasinya dengan menggunakan teks, bukan telepon. Lebih banyak berkomunikasi dengan messengger, ketimbang telepon. Generasi sebelumnya lebih senang telepon. Generasi ini seperti malas bertelepon. Dia bisa chatting sampai setengah jam ibaratnya mengetik, tapi dia tidak terbiasa menelepon lama.

Ini corak-corak yang terjadi di kalangan santri secara umum. Generasi-generasi santri yang lebih muda juga memiliki corak yang hampir sama dengan corak generasi milenial. Cuma pada dasarnya mereka memiliki umur yang jauh lebih muda. Dan yang jelas mereka sangat melek digital.

Corak milenial lainnya, mereka connected (terhubung) satu sama lain. Mereka terkoneksi satu sama lain. Mereka memiliki koneksi yang sangat luas di media sosial. Saya ingin mencontohkan jaringan apa yang disebut sebagai akun instagram santri (AIS). Yaitu ada AIS Jakarta, ada AIS Jawa Tengah, AIS Lampung, AIS Jawa Timur, AIS Surabaya. Ini akun instagram santri, masih muda-muda, remaja-remaja, rata-rata di bawah umurnya 20 tahun. Mereka sangat aktif menggunakan instagram. Mereka biasa cuma unggah kutipan, meme, gambar, video, dan juga pesan kiainya. Mereka sangat aktif di instagram sebagaimana generasi milenial yang lain.

Pemanfaatnya jelas karena mereka bisa sharing informasi. Selain itu, sharing pengetahuan antarmereka lebih baik daripada generasi sebelumnya. Jadi mereka lebih mampu membangun network tingkat nasional lebih baik dari generasi sebelumnya. Dengan kemampuan dan keakraban dengan teknologi digital, dengan social network, dengan social media, membuat mereka secara umum bisa membangun jaringan yang lebih luas daripada santri di masa sebelumnya.

Pada generasi sebelumnya, saat mondok mungkin hanya kenal santri dari satu pondok. Tidak kenal dengan santri dari pondok lain, apalagi dari kota lain. Tapi santri-santri sekarang bisa mengenal santri-santri di tempat lain dengan adanya media sosial, dengan adanya social network. Atau kadang-kadang membuat agenda bersama.

Misalnya, kampanye ‘Ayo Mondok.’ Jadi santri-santri ini karena Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) NU, departemen yang mengenalkan pesantren, ingin memperkenalkan pesantren ke kalangan di luar NU, sehingga membuat kampanye ‘Ayo Mondok.’

Nah ini banyak santri milenial yang berperan, dalam konteks ikut mempopulerkan, atau menjelaskan kehidupan di pesantren seperti apa. Sebab, mereka foto suasana-suasana di pesantren. Mulai dari ketika belajar bersama, mengaji, salat berjamaah, bermain bersama, makan bersama. Juga kondisi fisik dan bangunan pesantren. Mereka juga membuat meme, kutipan-kutipan, atau kata-kata mutiara yang lazim dikenal kalangan pesantren. Jadi mereka sangat berkontribusi dalam konteks memperkenalkan pesantren ke kalangan yang lebih luas.

Apalagi, banyak literatur-literatur pesantren dalam format digital, seperti PDF. Banyak kitab-kitab, santri-santri yang baca Alquran lewat gawai, tidak lagi pegang Alquran. Itu salah satu karakteristik genersi digital. Belum lagi, hadis-hadis yang disimpan di dalam gawai santri. Kitab-kitab ada di dalam komputernya, sehingga mereka tidak perlu membeli dan menumpuk kitab. Kecuali kitab yang bisa disimpan. Sekarang sudah ada kitab-kitab yang disimpan dalam satu lepengan cakram. Pada Generasi sebelumnya tidak ada. Dan itu mempengaruhi dan mengubah pola pikir dan perilaku.

Selain itu, dengan digital, banyak santri yang penjelajahan intelektualnya lebih luas daripada santri generasi sebelumnya. Belum lagi kemampuan teknologi dalam konteks mengartikan berbagai bahasa, karena banyak sekali generasi digital bisa membahas artikel dengan bahasa lain, menggunakan google translate. Itu juga salah satu fenomena yang mempengaruhi. Sehingga membuat santri-santri pengetahuannya lebih kaya.

Secara umum generasi santri digital, wawasan pengetahuannya lebih luas daripada sebelumnya karena bersentuhan lebih banyak kitab. Walaupun ada hipotesis bahwa generasi digital itu lebih jarang membaca. Ini yang harus diriset, saya belum tahu persis kondisi ini di kalangan santri.

Kendati begitu, santri cukup memiliki tradisi membaca karena mereka harus belajar kitab-kitab di pesantren. Jadi mereka tetap harus membacanya. Generasi-generasi secara umum sekarang dianggap sudah tidak baca buku, membacanya via gawai.

Tradisi santri membaca buku masih lumayan terjaga, karena banyak ekosistem di pesantren mengondisikan untuk tetap membaca kitab. Apalagi, ada tes dari kiai membaca kitab. Belum lagi musyawarah. Jika musyawarah, pendapat santri ini merujuk pada kitab mana, halaman berapa. Tradisi itu sangat kuat di pesantren. Jadi, ukuran milenial itu familiar dengan teknologi.

Karakteristik Santri Milenial di Era Digital

Zaman dulu ketika orang tua hendak mengirim putra dan putrinya ke pesantren, pertanyaan yang sering muncul adalah, “kitab apa yang diajarkan di pesantren? Kiainya alumni pesantren mana? sanad keilmuannya menyambung ke kiai siapa dan seterusnya?

Namun sekarang ini, pertanyaan orang tua berbeda. Dari mereka banyak bertanya, Apakah di kamar pesantren ada AC-nya? Bagaimana tempat tidurnya (di kasur atau lesehan)? bagaimana makanannya (bergizi atau tidak)? Mencuci seperti apa? Boleh pulang gak seminggu sekali?

Banyak yang bisa kita tafsiri dari pergeseran pertanyaan-pertanyaan calon wali santri hari ini, zaman now. Salah satu tafsir yang berat dan serius, adalah ada pergeseran makna dan tujuan orang tua mengirim anaknya ke pesntren, kalau orang tua zaman dulu memondokkan anaknya untuk mencari ilmu sekaligus mencari berkah ilmu dan para pemilik ilmu, namun orang tua zaman sekarang hanya bertujuan mencari ilmu saja, kalau orang tua zaman dulu sadar bahwa mondok harus disertai dengan ber-riyadhah (tirakat) dengan berpuasa, qiyamullail dst.

Namun orang tua zaman now lebih mementingkan kenyamanan dalam memondokkan anaknya dan mengesampingkan hal-hal seperi riyadloh. Kalau orang zaman dulu memondokkan anaknya dengan menyerahkan jiwa raga anaknya kepada kiai bahkan sering berkata “kalau melanggar aturan mohon diberi takzir (semacam hukuman atau sangsi), namun orang tua zaman now berbeda dan bahkan tidak rela kalau anaknya diberikan takzir.

Fenomena-fenomena tersebut di atas bagaikan fenomena gunung es, masih banyak fenomena-fenomena lainnya yang tidak terlihat.

Generasi milenial banyak belajar agama melalui internet yang mengesampingkan kepakaran dalam bidang agama. Mereka secara otodidak berguru melalui Google, melalui video di Youtube dst, mereka lupa belajar agama seperti santri yang secara langsung bertatap muka (muwajjahah) dengan kiai, belajar dengan kiai yang mempunyai sanad keilmuan tersambung (muttasil) sampai ke pengarang kitab dan sampai ke Rasulullah SAW.

Kita beruntung menjadi seorang santri pondok pesantren yang sangat menghargai “proses” menghargai kepakaran, mempelajari sebuah ilmu di pesantren itu melalui proses yang panjang bermula dari mempelajari ilmu yang paling dasar (ushuli) kemudian sampai mempelajari ilmu cabang (furu’i), belajar dari yang umum (am) kemudian baru yang khusus (khos), menurut Ulil Abshar Abdalla menganalogikan ilmu pesantren dan ilmu non-pesantren itu seperti “bawang” dan “pisau” maksudnya “ilmu” yang dipelajari di pesantren itu bagaikan “bawang” ilmu dipandang sebagai “ilmu” bukan sebagai “metode” atau alat.

Karena ilmu itu bawang maka derajad ilmu seseorang tergantung pada seberapa banyak bawang yang dia punya. Lalu seberapa lihai dia memasak bawang untuk membuat makanan yang lezat. Ilmu di pesantren adalah subtansi, yang berkaitan dengan kitab suci Alquran dan Hadis yang sangat sakral termasuk ilmu-ilmu alat (nahwu, sharaf, balaghah dst). Tidak berlebihan jika empunya ilmu, sang guru, juga sakral. Kenapa?

karena beliau memegang teguh ‘adalah dan muru’ah (moral probity), hati-hati dalam bersikap dan menjaga kehormatan peribadinya dan ilmu yang dimilikinya, sebagai seorang murid kita harus hormat kepada para empunya ilmu (guru, kiai dst). Di dalam kitab Ta’limul Mutaalim diterangkan tentang etika dan etiket menghargai ilmu dan empunya, seperti suci ketika memegang kitab, menghadap kiblat ketika mengaji, dan mengirimkan alfatihah kepada pengarang kitab ketika mau mengaji dst.

Ini berbeda dengan pisau, pisau adalah alat yang netral sehingga memerlukan jarak agar alat bisa objektif dalam melakukan analisa, dan orang yang mempelajari ilmuan modern tidak mendapatkan tuntutan dan tidak terikat dengan ‘adalah dan muru’ah dia bebas berkehendak menurut dia sendiri karena keilmuannya tidak mensyaratkan itu.

Di pesantren kita belajar tentang bagaimana tata cara menghargai seorang guru, kiai, nyai dan keluarganya. Mengapa?

Karena di pesantren selain mengenal istilah “ilmu manfaat” kita juga mengenal istilah “ilmu barokah”. Barokah tidak akan bisa didapatkan tanpa adanya penghormatan kepada ahli ilmu. di pesantren para kiai tidak hanya mengajarkan ilmu melalui transfer of knowledge melalui pengajaran sorogan, bandongan, musyawarah, rihlah ilmiah dst tetapi juga para kiai mengajari tentang akhlak dengan menjadi teladan dan role model keilmuan, bahkan para kiai juga mendoakan para santri-santrinya kelak menjadi orang yang bermanfaat dan barokah di dunia dan akhirat. Inilah karakteristik santri yang “mahal” yang dimiliki oleh seorang santri karena tidak hanya terikat secara dhohiriyah (luar) saja tetapi terikat secara bathiniyah (dalam) juga, tidak hanya raganya tetapi juga jiwanya.

Santri Milenial Pelopor Kemajuan Peradaban

Sejarah telah mencatat peran santri dalam mengabdikan diri bagi umat dan bangsa sejak periode penjajahan hingga periode kemerdekaan hari ini. Santri telah mampu mewarnai berbagai dinamika kemajuan bangsa dengan mahakarya dan berbagai kontribusi aktif di dalamnya.

Namun seiring dengan perkembangan zaman, dinamika kehidupan berbangsa kian mengalami perubahan, salah satunya disebabkan cepatnya arus informasi melalui berbagai macam media yang berbasis kemutakhiran teknologi.

Begitupun dengan fenomena santri hari ini yang juga tidak terlepas dari pengaruh media dan informasi yang turut memengaruhi pola pikir dan tingkah laku santri. Perilaku-perilaku seperti cara berpakaian, musik favorit, kisah asmara, sampai kepada way of life santri mengalami berbagai macam perubahan.

Perubahan ini tentu dapat bernilai negatif maupun positif tergantung bagaimana santri dapat memfilter dampak yang dapat terjadi serta keteguhannya untuk tidak meninggalkan identitasnya sebagai santri.

Santri hari ini, atau istilah kerennya adalah santri zaman now, adalah bagian dari generasi millenial yang tentunya tidak terlepas dari karakteristik generasi millenial itu sendiri. Menurut Hassanuddin Ali, dalam bukunya yang berjudul Milenial Nusantara, yang dimaksud generasi millenial adalah generasi yang lahir pada tahun 1981-2000, di mana millenial adalah istilah cohort.

Dalam demografi, terdapat empat cohort besar yaitu Baby bommer, Gen-X, Gen-Y (generasi millenial), dan Gen-Z. Lebih lanjut lagi, Hassanuddin menerangkan bahwa setidaknya ada tiga karakteristik dasar generasi millenial, yaitu confidence (percaya diri), creative (kaya akan ide dan gagasan), dan connected (pandai bersosialisasi dalam berbagai komunitas). Karakteristik ini juga yang tentu dimiliki juga oleh santri zaman now sebagai bagian dari generasi millenial.

Di permulaan tahun ini, nampaknya ada beberapa hal yang menarik untuk diperbincangkan juga kemudian perlu dipersiapkan. Pertama, pada tahun 2018 kita akan menyongsong 20 tahun pasca reformasi Indonesia. Kedua, pada dua tahun berikutnya yaitu tepatnya tahun 2020, kita akan memulai fase dimana Indonesia akan mengalami bonus demografi.

Kemudian yang ketiga, pada tahun 2030 diprediksi akan menjadi awal masa keemasan Indonesia. Lalu timbul pertanyaan, di manakah posisi santri saat itu? Akankah santri menjadi pelopor kemajuan di Indonesia ataukah hanya menjadi pengekor saja? Akankah santri menjadi pelaku sejarah atau hanya menjadi penikmat sejarah?

Harapan besarnya adalah santri dapat menjadi pelopor peradaban kemajuan Indonesia. Selanjutnya, apa yang harus dilakukan santri dalam mempersiapkan dirinya agar bisa menjadi pelaku sejarah serta pelopor kemajuan peradaban di Indonesia?

Menurut penulis, setidaknya ada tiga hal yang harus santri lakukan dalam mempersiapkan dirinya agar bisa menjadi pelaku sejarah serta pelopor kemajuan peradaban di Indonesia berdasarkan realitas yang ada. Pertama, persiapan yang harus dilakukan santri yaitu santri harus memiliki kecerdasan intelektual yang tinggi dan daya nalar kritis dalam menyikapi setiap persoalan yang ada.

Keilmuan santri harus mampu menyesuaikan dengan keadaan zaman, sehingga tidak lagi dikotomi antara keilmuan dunia dan keilmuan akhirat. Santri harus bisa menguasai keilmuan-keilmuan yang mampu mengantarkan kemenangan di dunia dan akhirat. Imam al-Ghazali, dalam kitab Ihya’ Ulumiddin, mengutip sebuah hadits bahwa: “Sesungguhnya kalian berada pada zaman di mana fuqaha’ (ahli ilmu) banyak sedangkan sedikit qurra’ (ahli baca al-Qur’an) dan khutoba’ (ahli pidato), maka amal pada zaman ini lebih baik daripada ilmu.”

Dan akan datang kepada manusia zaman di mana sedikit fuqaha’ sedangkan banyak qurra’, dan khutoba’, maka ilmu pada zaman ini lebih baik daripada amal”. Boleh jadi di era sekarang ini, memang menjadi suatu keniscayaan bahwa ilmu pengetahuan memiliki peran yang sangat penting, dan tentunya harus diimbangi juga dengan amal perbuatan.

Kedua, persiapan yang harus santri santri lakukan yaitu memiliki skill entrepreneur yang mumpuni dan terampil dalam melihat peluang bisnis. Potensi pasar Indonesia yang sangat besar diiringi laju pertumbuhan ekonomi yang pesat serta menjamurnya start-up bisnis dari kalangan pemuda harusnya direspon juga dengan sigap oleh kalangan santri. Santri zaman now tidak cukup hanya berbekal ilmu pengetahuan, akan tetapi harus sukses juga dalam entrepreneur.

Rasulullah SAW telah memberikan contoh langsung untuk kita teladani di mana beliau merupakan sosok pebisnis yang sukses. Kesungguhannya dalam berdagang mengantarkan Rasulullah mencapai kondisi yang mandiri secara finansial di usia muda. Contoh keteladanan inilah yang harus dicontoh oleh santri hari ini, bahwa mandiri secara finansial harus dirintis dan diperjuangkan dari sejak muda.

Maka sudah sepatutnya, santri tidak hanya belajar membaca kitab kemudian menghukuminya saja, lebih dari itu santri harus bisa mengaktualisasikannya. Harapan besar lainnya juga santri bisa menjadi lokomotif pertumbuhan ekonomi di Indonesia.

Kemudian yang ketiga, persiapan yang harus dilakukan santri yaitu bahwa santri harus bisa berdiri di atas keteguhan dan keistiqomahan memegang prinsip karakteristik santri. Maraknya kenakalan remaja, kasus kriminal, dan merosotnya moral para pelajar di Indonesia yang diakibatkan kurangnya pendidikan berbasis karakter seharusnya tidak dialami oleh santri.

Karena sejatinya, pesantren sebagai tempat pembelajaran bagi santri telah menerapkan pendidikan berbasis penguatan karakter, di mana tujuannya dapat melahirkan santri dengan etika luhur (strong ethic), berakhlak mulia (possesing a positive attitude), dan berintegritas (intergrity).

Selanjutnya tinggal bagaimana santri setelah lulus dapat bisa mengistiqomahkan karakter kesantriannya di tengan godaan dan perang budaya kebarat-baratan dan ketimur-timuran di kalangan pemuda Indonesia.

Menurut penulis, kebangkitan pemuda adalah suatu keniscayaan yang akan membangun Indonesia di masa mendatang, yaitu dengan adanya fenomena bonus demografi yang kemudian berimplikasi setidaknya ke dalam tiga sektor yaitu organisasi, politik, dan ekonomi.

Ketiga sektor ini menjadi wacana youth civil society, youth government, dan youth entrepreneurship akan lahir dari kalangan pemuda generasi milenial yang termasuk di dalamnya adalah kaum santri. Bahkan tidak menutup kemungkinan bahwa santri akan menjadi pelopor kemajuan pemuda di bidangnya masing-masing, mengingat potensi besar yang dimiliki oleh santri.

Sehingga santri millenial dengan kecerdasan intelektual yang tinggi, skill entrepreneur yang mumpuni, berintegritas, serta berakhlak mulia, bukan tidak mungkin akan menjadi pelopor kemajuan peradaban di Indonesia.

Oleh Fudzi Hanafi : Penulis adalah Santri Pondok Pesantren Ulul Albab Balirejo Yogyakarta, Mahasiswa Manajemen Keuangan Syariah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.